TEKNOLOGI
PENDIDIKAN
1. ISTILAH BENTUK TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Definisi
AECT, mendefinisikan teknologi sebagai suatu proses
yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan
organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan,
mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang mengangkut semua aspek
belajar manusia.
Tekologi
instruksional adalah suatu proses yang kompleks dan terintegrasi, meliputi
orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah dan
merancang, melaksanakan dan menilai, serta mengelola pemecahan terhadap masalah
tersebut dalam situasi-situasi dimana proses belajar dilakukan secara sengaja,
bertujuan dan terkontrol.
Definisi
AECT 1963
Komunikasi
audio visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama
berkepentingan dengan mendisain dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses
belajar. Kegiatannya meliputi ; a) mempelajari kelemahan dan kelebihan, yang
unik maupun relatif, dari pesan baik yang diungkapkan dalam bentuk gambar,
maupun yang bukan, dan yang digunakan untuk tujuan apapun dalam proses belajar,
dan b) penstrukturan dan sistematisasi pesan oleh orang maupun instrumen dalam
lingkungan pendidikan. Kegiatan ini meliputi perencanaan, produksi, pemilihan,
manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran.
Tujuan praktisnya ialah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara
efektif untuk membantu pengembangan potensi pebelajar (orang yang belajar)
secara maksimal (Ely, 1963:18-19).
Definisi
AECT 1972
Teknologi
pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar
pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan,
pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan
pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut (AECT , 1972:36).
Definisi
AECT 1977
Teknologi
pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi: orang, prosedur,
gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang,
melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek
belajar pada manusia (AECT , 1977:1).
Dari
defenisi tersebut ciri-ciri teknologi pembelajaran, tampak bahwa dalam
memecahkan masalah belajar yang bertujuan dan terkontrol, teknologi
pembelajaran menggunakan komponen sistem pembelajaran. Kegiatan insturksional
yang direncanakan secara integral dan sistematis dalam suatu komponen
pembelajaran merupakan ujud dari pemecahan masalah belajar menurut teknologi
pembelajaran.
2. REVOLUSI PENDIDIKAN
Revolusi
pendidikan di Indonesia adalah revolusi gaya belajar para siswa dan revolusi
gaya mengajar oleh para guru. Sistem pendidikan tradisional sudah menunjukkan
banyak kelemahan hampir dari semua aspek yang melingkupinya.
Baru-baru
ini seorang professor pendidikan dari Harvard University, Howard Gardner,
mengenalkan delapan jenis kecerdasan; kecerdasan linguistik, kecerdasan
logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan
jasmani-kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan
kecerdasan naturalis.
Delapan
jenis kecerdasan tersebut menghasilkan jawara-jawara di bidangnya
masing-masing, sebut saja Goenawan Muhammad ataupun K.H. Abdullah Gymnastiar
dengan kecerdasan linguistiknya, Albert Einstein ataupun pakar telematika Roy
Suryo dengan kecerdasan logika-matematikanya, Affandi ataupun Basuki Abdullah
dengan kecerdasan visual-spasialnya, Melly Goeslow ataupun Dhani Ahmad dengan
kecerdasan musikalnya, Susi Susanti ataupun Dedy Mizwar dengan kecerdasan
jasmani-kinestetiknya, Purdhi E. Chandra ataupun Andy F. Noya dengan kecerdasan
interpersonalnya, Eleanor Rosevelt dengan kecerdasan intrapersonalnya, dan
sebut juga Prof. Hembing dengan kecerdasan naturalisnya.
Tetapi
ironisnya, segala perbedaan latar belakang dari jenis kecerdasan-kecerdasan
yang cemerlang tersebut harus diukur dengan sebuah alat yang sama di bangku
pendidikan kita, nilai matematis dan linguistis.
Seakan-akan
para olahragawan, musisi, pelukis, ahli matematika, pemasar, orator, arsitek,
penulis, akuntan, ahli hukum, politisi, ahli permata, juru masak, dokter dan
programmer komputer yang berprestasi cemerlang semuanya punya bakat yang sama.
Manusia
masing-masing memiliki rangkaian otak dan kemampuan yang berbeda-beda,
preferensi yang tidak sama satu dengan lainnya, sehingga manusia juga akan menerima
informasi, menyimpan pengetahuan, dan mengambilnya kembali dengan cara yang
berbeda-beda, ringkasnya setiap manusia masing-masing memiliki gaya belajar dan
memahami sesuatu secara berbeda.
Ketika
preferensi gaya belajar yang berbeda-beda tersebut difasilitasi hanya dengan
satu model kelas tradisional – anak harus duduk tegak dan diam, belajar
hanya dengan mendengar dan membaca, dan anak dituntut memahami permasalahan
dengan satu cara, yakni cara guru – yang tentu saja menyebabkan beberapa
hal:
- memenjarakan
tubuh dalam wilayah yang terbatas
- memenjarakan
energi pada kegiatan yang terbatas
- membatasi
stimulasi indra
- membatasi
interaksi sosial
- membatasi
pengalaman-pengalaman di kelas
- menomorduakan
inisiatif atas hal-hal lainnya
maka
bisa dipastikan akibat yang fatal terjadi pada pribadi anak, terutama yang
memiliki preferensi gaya belajar berbeda, timbullah kecemasan, frustasi,
kebosanan, ketegangan, dan penurunan motivasi anak.
“tidak ada yang
lebih tidak adil dari perlakuan yang sama terhadap orang-orang yang berbeda”
Dr. K. Dunn
3. PERBEZAAN SUMBER BELAJAR, MEDIA DAN ALAT
PERAGA
- Sumber Belajar
Suatu
pandangan yang keliru jika sumber belajar berarti di luar apa yang dimiliki
guru, atau siswa. Guru merupakan sumber belajar yang utama, yaitu dengan
segala kemampuan, wawasan keilmuan, keterampilan dan pengetahuan yang luas,
maka segala informasi pembelajaran dapat diperoleh dari guru tersebut. Siswa,
siswa memiliki sejumlah variasi aktivitas belajar, pengalaman belajar,
pengetahuan dan keterampilan, maka dalam konteks tertentu apa yang terdapat
pada diri siswa apat dijadikan sebagai sumber belajar dalam mempelajari suatu
pengalaman-pengalaman belajar yang baru.
Sumber
belajar pada dasarnya banyak sekali baik yang terdapat di lingkungan kelas,
sekolah, sekitar sekolah bahkan di masyarakat, keluarga, di pasar, kota,desa,
hutan dan sebagainya. Yang perlu dipahami dalam hal ini adalah masalah
pemanfaatannya yang akan tergantung kepada kreativitas dan budaya mengajar guru
atau pendidika itu sendiri.
Vernon
S. Gerlach & Donald P. Ely (1971) menegaskan pada awalnya terdapat
jenis sumber belajar yaitu manusia, bahan, lingkungan, alat dan
perlengkapan, serta aktivitas.
a.
Manusia
Manusia
dapat dijadikan sebagai sumber belajar, peranannya sebagai sumber belajar dapat
dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah manusia atau orang yang
sudah dipersiapkan khusus sebagai sumber belajar melalui pendidikan yang khusus
pula, seperti guru, konselor, administrator pendidikan, tutor dan sebagainya.
Kelompok Kedua yaitu manusia atau orang yang tidak dipersiapkan secara khusus
untuk menjadi seorang nara sumber akan tetapi memiliki keahlian
yang mempunyai kaitan erat dengan program pembelajaran yang akan disampaikan,
misalnya dokter, penyuluh kesehatan, petani, polisi dan sebagainya.
b.
Bahan
Bahan
adalah segala sesuatu yang membawa pesan/ informasi untuk pembelajaran. Baik
pesan itu dikemas dalam bentuk buku paket, video, film, bola dunia,
grafik, CD interaktif dan sebagainya. Kelompok ini biasany disebut dengan media
pembelajaran. Demikian halnya dengan bahan ini, bahwa dalam penggunaannya untuk
suatu proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi du akelompok yaitu bahan yang
didesain khusus untuk pembelajaran, dan ada juga bahan/media yang dimanfaatkan
untuk memberikan penjelasan materi pembelajaran yang relevan.
c.
Lingkungan
Lingkungan
adalah lingkungan yang mampu memberikan pengkondisian belajar. Lingkungan ini
juga di bagi dua kelompok yaitu lingkungan yang didesain khusus untuk
pembelajaran, seperti laboratorium, kelas dan sejenisnya. Sedangkan lingkungan
yang dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan penyampaian materi pembelajaran,
di antaranyai lingkungan museum, kebun binatang dan sejenisnya.
d.
Alat dan perlengkapan
Sumber
belajar dalam bentuk alat atau perlengkapan adalah alat dan perlengkapan yang
dimanfaatkan untuk produksi atau menampilkan sumber-sumber belajar lainnya.
Seperti TV untuk membuat program belajar jarak jauh, komputer untuk
membuat pembelajaran berbasis komputer, tape recorder untuk membuat program
pembelajaran audio dalam pelajaran bahasa Inggris, terutama untuk
menyampaikan informasi pembelajaran mengenai listening (mendengarkan),
dan sejenisnya.
e.
Aktivitas
Biasanya
aktivitas yang dapat diajdikan sumber belajar adalah aktivitas yang mendukung
pencapaian tujuan pembelajaran, di mana didalamnya terdapat perpaduan antara
teknik penyajian dengan sumber belajar lainnya yang memudahkan siswa
belajar. Seperti aktivitas dalam bentuk diskusi, mengamati, belajar
tutorial, dan sejenisnya.
- Media Pembelajaran
Dalam
media pembelajaran terdapat dua unsur yang terkandung , yaitu;
- pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan atau perangkat lunak, dan
- alat penampil atau perangkat keras.
Sebagaii
contoh guru akan mengajarkan bagaimana urutan gerakan melakukan
sholat. Kemudian guru tersebut menuangkan ide-idenya dalam bentuk gambar ke
dalam selembar kertas, ia menggambarkan setiap gerakan sholat tersebut dalam
kertas tersebut, saat di kelas ia menjelaskannya kepada siswa bagaimana gerakan
sholat tersebut dengan cara memperlihatkan poster yang bergambarkan
gerakan-gerakan yang telah ia buat sebelumnya. Kemudian siswapun melakukan
gerakan sholati dengan apa yang terdapat dalam poster tersebut. Dalam
perkembangan selanjutnya poster ini termasuk ke dalam media sederhana.
- Alat Peraga
Kata
kunci dalam memahami alat peraga dalam konteks pembelajaran adalah Nilai
Manfaat , dalam arti segala sesuatu alat yang dapat menunjang keefektifan
dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman informasi atau pesan
pembelajaran. Ada istilah lain dari alat peraga ini, diantaranya
sering disebut sebagai sarana belajar.
Sebagai
ilustrasi, misalnya Pak Budi akan mengajarkan bagaimana gambar dalam
televisi bisa terlihat di layar, maka Pak Budi membawa televisi ke kelas,
kemudian ia membukanya di depan kelas, kemudian menjelaskan satu-persatu fungsi
dari masing-masing komponen televisi tersebut kepada siswa sehingga siswa
memahami kenapa gambar terlihat pad alayar televisi. Dalam ilustrasi tersebut
kedudukan televisi adalah sebagai alat peraga , bukan sebagai media.
4. DESAIN PEMBELAJARAN
Pengertian Desain Pembelajaran
Desain
pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai
disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin,
desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi
serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain
pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan,
pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas
pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata
pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain
pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya
termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara
itu desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah
pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus
teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan
tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai
dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang
digunakan.
Sementara
itu desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah
pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus
teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan
tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai
dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang
digunakan.
Dengan
demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media
teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer
pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi
penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan
pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu
terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori
belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa,
dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
Komponen
Utama Desain Pembelajaran
Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:
1. Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran
kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
2. Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui
meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
3. Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau
materi yang akan dipelajari
4. Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun
satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar. Bahan Ajar,
adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
5. Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi
yang sudah dikuasai atau belum.
Langkah
– Langkah Dalam Mendesain Pembelajaran
Salah
satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985).
Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
- Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
- Melaksanakan analisi pembelajaran
- Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
- Merumuskan tujuan performansi
- Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan
- Mengembangkan strategi pembelajaran
- Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
- Merevisi bahan pembelajaran
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar